SINDROM RESECTION TRANSURETRAL PROSTAT

Mei 8, 2009 - Leave a Response

Definisi

Sindroma TUR adalah suatu keadaan klinik yang ditandai dengan kumpulan gejala akibat gangguan neurologik, kardiovaskuler, dan elektrolit yang disebabkan oleh diserapnya cairan irigasi melalui vena-vena prostat atau cabangnya pada kapsul prostat yang terjadi selama operasi. Hiponatremia, hipovolemia, dan kadang hiperamonemia mungkin terjadi (Eaton, 2003)

Faktor Resiko

Marrero menunjukkan frekuensi Sindrom TUR meningkat bila:

v     Prostat yang ukurannya lebih dari 45 gr

v     Operasi yang berlangsung lebih dari 90 menit

v     Pasien yang mengalami hiponatremi relative

v     Cairan irigasi 30 liter atau lebih

Oleh karena itu TURP hanya boleh dilakukan kalau ahli bedah yakin bahwa operasi pasti dapat diselesaikan tidak lebih dari 90 menit. Tetapi menurut penelitian ternyata Sindroma TUR dapat terjadi pada operasi yang berlangsung 30 menit

Sebaliknya risiko Sindrom TUR akan menurun bila:

v     Dipakai cairan irigasi yang tidak menimbulkan hemolisis (isotonik)

v     Tekanan cairan irigasi yang masuk (in flow) dijaga serendah mungkin

Tanda dan gejala :

v     Lemah

v     Pusing dan sakit kepala

v     Rasa tertekan di dada dan tenggorokan

v     Napas pendek

v     Gelisah dan binggung

v     Hipotensi

v     Takikardia

v     Mual dan muntah

v     Kolaps

v     Spasme otot dan nyeri perut

v     Kejang

v     Tekanan sistolik dan diastolik menurun

v     Nadi meningkat

Bila pasien mengalami anestesi umum, maka diagnosa dari sindrom TURP menjadi sulit dan sering terlambat. Salah satu tanda sindromTURP jika klien sedang mendapatkan anestesi adalah kenaikan dan penurunan tekanan darah yang tidak dapat diterangkan sebabnya. Perubahan ECG dapat berupa irama nodal, perubahan segmen ST, munculnya gelombang U, dan komplek QRS yang melebar. Pada pasien yang mengalami sindrom TURP, pulihnya kembali kesadaran karena anestesi dan khasiat muscle relaxant dapat terlambat.

Komplikasi

v     Sianotik

v     Hipotensi

v     Cardiac arrest

v     Gejala neurologi : mula-mula mengalami letargi dan kemudian tidak sadar, pupil mengalami dilatasi dan dapat terjadi kejang tonik klonik dan dapat berakhir dengan koma

v     Koagulopati
Pada Sindroma TUR dapat terjadi Disseminated Intravasculer Coagulation (DIC) yang terjadi akibat lepasnya partikel prostat yang mengandung tromboplastin dalam jumlah besar ke dalam peredaran darah dan menyebabkan fibrinolisis sekunder. DIC ini dapat diketahui dari turunnya kadar trombosit dan meningkatnya Fibrin Degradation Product (FDP) serta kadar fibrinogen yang rendah

v     Bakteriemia dan Sepsis

Pada 30% penderita yang dilakukan TURP sudah terjadi infeksi sebelum operasi. Bila sinus vena prostat terbuka sebelum operasi dan dilakukan irigasi dengan tekanan tinggi maka kuman bisa masuk ke dalam peredaran darah dan terjadi bakteremia. Pada 6% pasien bakteremia ini menyebabkan sepsis

v     Hipotermi
Hipotermi sering terjadi pada pasien yang mengalami TURP. Irigasi kandung kencing merupakan penyebab penting kehilangannya panas tubuh dan hal ini ditambah dengan suhu kamar operasi yang rendah. Hipotermi sering terjadi pada penderita lanjut usia karena gangguan saraf otonomik

Cairan Irigasi

Cairan lain yang dapat dipakai adalah air steril, glysin 1,2%, 1,5%, atau 2,2%, sorbitol atau manitol 3%. air steril sudah jarang dipakai karena jika diserap dalam jumlah besar dapat menyebabkan hiponatremia, hemolisis intra vaskuler dan hiperkalemia. Sorbitol, manitol atau glisin dapat mencegah hemolisis intravaskuler tetapi tidak dapat mencegah hiponatremia dilusional karena bisa terjadi penyerapan cairan dalam jumlah besar tanpa penambahan natrium. Cairan non ionik yang dapat dipakai adalah larutan glukose 2,5%-4%. Untuk negara yang sedang berkembang, Collins dan kawan-kawannya menganjurkan pemakaian dektrose 5% yang lebih ekonomik dibandingkan dengan cairan glisin dan lebih jarang menimbulkan hemolisis serta lebih aman dibandingkan air steril. Tetapi larutan dextrose tidak disukai karena dapat menyebabkan hipoglikemi tissue charring pada tempat reseksi dan menimbulkan rasa lengket pada sarung tangan ahli bedah dan peralatan.

Penatalaksanaaan Medis

v     Pada hiponatremia ringan atau sedang, pemberian furosemide intravenous dan infus normosalin mungkin sudah cukup

v     Pada kasus hiponatremi berat diberikan infus 3% saline (hipertonik) sebanyak 150-200 cc dalam waktu 1-2 jam. Tindakan ini harus selalu disertai furosemide intravena, terutama pada pasien dengan risiko terjadinya payah jantung kongestif. Pemberian hipertonik saline ini dapat diulangi bila perlu. Kadar elektrolit harus diperikasa tiap 2-4 jam untuk mencegah terjadinya hipernatremia

v     Pemberian saline 3% sebaiknya segera digantikan dengan normal saline

v     Bila terjadi udem paru-paru, harus dilakukan intubasi trakeal dan ventilasi tekanan positif dengan menggunakan oksigen 100%

v     Bila terjadi kehilangan darah yang banyak maka transfusi dilakukan dengan menggunakan Packed Red Cells (PRC)

v     Bila terjadi DIC diberikan fibrinogen sebanyak 3-4 gram intravena diikuti dengan pemberian heparin 2000 unit secara bolus dan diikuti 500 unit per jam. Dapat juga diberikan fresh frozen plasma dan trombosit, tergantung dari profil koagulasi

Keuntungan :

–          Luka incisi tidak ada

–          Lama perawatan lebih pendek

–          Morbiditas dan mortalitas rendah

–          Prostat fibrous mudah diangkat

–          Perdarahan mudah dilihat dan dikontrol

Kerugian :

–   Tehnik sulit

–   Resiko merusak uretra

Asuhan Keperawatan

Diagnosa  keperawatan yang mungkin muncul :

v     Kelebihan volume cairan b.d pengenceran serum plasma

v     Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d hiponatremia saat operasi TURP

Diagnosa  keperawatan : Kelebihan volume cairan b.d pengenceran serum plasma

Intervensi

  1. Awasi denyut jantung, TD dan CUP
  2. Awasi berat jenis urin
  3. Kaji kulit, wajah, area tergantung untuk edema
  4. Auskultasi paru dan bunyi jantung
  5. Kaji tingkat kesadaran, selidiki perubahan mental, adanya gelisah
  6. Awasi pemeriksaan laboratorium : Natrium, kalium, albumin, Hb / Ht
  7. Monitor intake dan output
  8. Berikan obat diuretik
  9. Ganti irigasi bladder dengan normal salin

10.  Kurangi waktu pelaksanaan operasi

Diagnosa keperawatan : Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d hiponatremia saat operasi TURP

Intervensi :

v     Hentikan irigasi

v     Monitor TTV dan tingakat kesadaran

v     Monitor EKG untuk mengetahui fungsi jantung akibat hiponatremia

v     Kaji suara paru dan jantung untuk adanya tanda edema paru, gagal jantung, atau keduanya sebagai perpindahan cairan kembali ke intravascular

v     Observasi adanya perbedaan kelemahan dan kebingungan dari TUR sindrom dari disorientasi post operasi dan hiponatremia

v     Monitor kadar elektrolit serum : Na, K

v     Pada hiponatremia ringan atau sedang, pemberian furosemide intravenous dan infus normosalin mungkin sudah cukup

v     Hiponatremi berat diberikan infus 3% saline (hipertonik) sebanyak 150-200 cc dalam waktu 1-2 jam. Tindakan ini harus selalu disertai furosemide intravena, terutama pada pasien dengan risiko terjadinya payah jantung kongestif

v     Selama pemberian saline hipertonik, kadar elektrolit harus diperikasa tiap 2-4 jam untuk mencegah terjadinya hipernatremia

Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK-UIN Jakarta

Mei 8, 2009 - Leave a Response

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang dulu bernama IAIN merupakan kampus  yang sangat megah yang terletak di Ciputat-Jakarta Selatan. Dan pada tahun 2002  UIN mempertimbangkan pentingnya pembukaan Program studi dalam bidang kedokteran dan kesehatan.Dan akhirnya berdasarkan keputusan Senat,  pendirian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di wujudkan yang terdiri dari 4 program Studi yaitu, Ilmu Keperawatan, Pendidikan Dokter, Kesehatan Masyarakat, dan Farmasi yang berguna untuk mendukung pengembangan UIN dalam mengintegrasikan ilmu Ke-Islaman dengan Ilmu-Ilmu umum.

Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan  dipimpin oleh Prof.Dr.dr.(hc) M.K Tadjudin, Sp.And  ( mantan rektor UI). Pertama kali pada tahun 2004 FKIK telah membuka Program studi Kesehatan Masyarakat dan Farmasi. Dan disusul pada tahun 2005 yaitu pendirian Program Studi Pendidikan Dokter dan Ilmu Keperawatan.

Dan dalam pembentukan FKIK sendiri mempunyai visi  yaitu menjadikan FKIK-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai lembaga pendidikan tinggi kedokteran dan Ilmu Kesehatan terkemuka dalam mengintegrasikan aspek keilmuan kedokteran dan kesehatan, keIslaman, dan keindonesiaan.

Gedung FKIK sendri dibagi menjadi dua gedung yaitu Pendidikan Dokter dan Kesehatan Masyarakat berada di Kampus 2,  Ilmu Keperawatan dan farmasi berada di kampus I. Dan pada tahun 2009 pembangunan Gedung baru FKIK akan dibangun.

Program Studi Ilmu Keperawatan berbeda dengan Keperawatan lain

Program Studi Ilmu Keperawatan  merupakan suatu prodi yang berada di FKIK  dan dipimpin oleh Ibu Tien Gartinah, MN (mantan Ketua prodi FIK UI ) yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan ners berkualitas yang dapat menjadi tenaga ahli terampil di bidang keperawatan, beriman, bertaqwa, berintegritas tinggi, berwawasan luas, dan professional berdasarkan relevansi dan kebutuhan pasar melalui peningkatan kualitas penelitian dan pendidikan serta berperan dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Dalam perjalanannya dari tahun 2005 sampai sekarang Program Studi Ilmu Keperawatan UIN telah menerima mahasiswa sebanyak 170 orang yang terdiri dari 4 angkatan. Dan pengajar yang profesional lulusan S2 FIK UI,  UNPAD dan lainnya.

Untuk menunjang perkuliahan mahasiswa Ilmu keperawatan  UIN telah dilengkapi sarana berupa LAB Keperawatan sendiri, Perpustakaan, dll. Dan Program Studi ilmu Keperawatan juga bekerja sama dengan RS.Fatmawati, RSUD Tangerang, Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran UI, Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Banten , Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta , Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, serta Instansi lainnya.

Program studi Ilmu Keperawatan berbeda dengan keperawatan umum lainnya yaitu terletak dalam materi yang diberikan dikaitkan dalam keislamannya seperti halnya Keperawatan Anak yaitu membahas tentang Pertumbuhan Anak dikaitkan pada Al-Qur’an dan hadistnya. Itulah nilai plus bagi Program Sudi Ilmu Keperawatan yang berada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kegiatan-Kegiatan Mahasiswa Ilmu Keperawatan

Dalam meningkatkan kreatifitas, jiwa sosial, dan menanamkan nilai-nilai Islami kegiatan yang dilakukan yaitu, meliputi tadarusan sebelum dimulai perkuliahan, kultum, adanya roja (rohis jurusan), tim nasyid, Tensi Zone, saman, bakti sosial, dan kegiatan lainnya yang bersifat meningkatkan integritas dan intelektualitas mahasiswa.

Dengan adanya Program Studi Ilmu Keperawatan yang berada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta senantiasa bisa menemukan kembali citra dan mencontoh perawat Rupaidah sebagai perawat  Islam yang pertama pada zaman Nabi Muhammmad SAW.

Jaya Keperawatan ! Bangkit !

Alamat ;

Pogram Studi Ilmu Keperawatan  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Gedung Akademik Pusat lt.3

Jl.Ir.H.Djuanda No.95 Ciputat Jakarta Selatan 15412

Telepon/Fax : (021) 7401925 / 7404985

Perkembangan Pendidikan Keperawatan diIndonesia

Mei 8, 2009 - Leave a Response


Perkembangan keperawatan sebagai pelayanan profesional didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang terarah dan terencana.

Di Indonesia, keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan merupakan suatu lompatan yang jauh kedepan. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan bersama pada Lokakarya Nasional Keperawatan pada bulan Januari 1983 yang menerima keperawatan sebagai pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi (professional education).

Tenaga keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat memberikan kontribusi essensial dalam keberhasilan pembangunan kesehatan. Untuk itu tenaga keperawatan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu berperan aktif dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pelayanan keperawatan profesional.

Pengembangan pelayanan keperawatan profesional tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan profesional keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi merupakan pendidikan vokasional/ kejuruan akan tetapi bertujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang menguasai ilmu keperawatan yang siap dan mempu melaksanakan pelayanan / asuhan keperawatan profesional kepada masyarakan. Jenjang pendidikan keperawatan bahkan telah mencapai tingkat Doktoral.

Keyakinan inilah yang merupakan faktor penggerak perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi, yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan yang pertama di Jakarta. Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan.

Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983, telah dirumuskan dan disusun dasar-dasar pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Sebagai realisasinya disusun kurikulum program pendidikan D-III Keperawatan, dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan profesional yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan professional yang mampu mengadakan pembaharuan dan perbaikan mutu pelayanan/asuhan keperawatan, serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.

Keperawatan sebagai suatu profesi, dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pengembanggannya harus mampu mandiri. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang mempunyai fungsi utama untuk menetapkan, mengatur serta mengendalikan berbagai hal yang berkaitan dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan, standar praktek, standar pendidikan, legislasi, kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan profesi keperawatan.

Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhann pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan. Hal ini disebabkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran masyarakat secara umum, dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta meningkatnya komplesitas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. Masyarakat semakin sadar akan hukum sehingga mendorong adanya tuntutan tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dengan mutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian keperawatan perlu terus mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan yang terjadi diberbagai bidang lainnya.

Perkembangan keperawatan bukan saja karena adanya pergeseran masalah kesehatan di masyarakat, akan tetapi juga adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan serta perkembangan profesi keperawatan dalam menghadapi era globalisasi.

Dalam memnghadapi tuntutan kebutuhan dimasa datang maka langkah konkrit yang harus dilakukan antara lain adalah : penataan standar praktek dan standar pelayanan/asuhan keperawatan sebagai landasan pengendalian mutu pelayanan keperawatan secara professional, penataan sistem pemberdayagunaan tenaga keperawatan sesuai dengan kepakarannya, pengelolaan sistem pendidikan keperawatan yang mampu menghasilkan keperawatan professional serta penataan sistem legilasi keperawatan untuk mengatur hak dan batas kewenangan, kewajiban, tanggung jawab tenaga keperawatan dalam melakukan praktek keperawatan.

Semangat……Keperawatan…!! Bangkit….Menuju keperawatan yang Profesional..!!!

TEKNOLOGI PELAYANAN KEPERAWATAN DI INDONESIA

Mei 5, 2009 - Leave a Response

Era globalisasi dan era informasi yang akhir- akhir ini mulai masuk ke  telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa mnutup mata akan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang meIndonesianguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi sevara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan.

Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayananpelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non-medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain. Ada pun pelayanan yang bersifat non medis seperti proses penerimaan, proses pembayaran, sampai proses administrasi yang terkait dengan klien yang dirawat merupakan bentuk pelayanan yang tidak kalah pentingnya. rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu

Pelayanan yang bersifat medis khususnya di pelayanan keperawatan mengalami perkembangan teknologikeperawatan dimulai dari pemasukan data secara digital ke dalam komputer yang dapat memudahkan pengkajian selanjutnya, intervensi apa yang sesuai dengan diagnosis yan sudah ditegakkan sebelumnya, hingga hasil keluaran apa yang diharapkan oleh perawat setelah klien menerima asuhan keperawatan, dan semua proses tersebut tentunya harus sesuai dengan NANDA, NIC, dan NOC yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam database program aplikasi yang digunakan. Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan. informasi yang sangat membantu dalam proses

Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Sistem ini mempermudah perawat memonitor klien dan segera dapat memasukkan data terkini dan intervensi apa yang telah dilakukan ke dalam komputer yang sudah tersedia di setiap bangsal sehingga akan mengurangi kesalahan dalam dokumentasi dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang sudah dilakukan.

Pelayanan yang bersifat non-medis pun dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperi sekarang ini semakin terbantu dalam menyediakan sebuah bentuk pelayanan yang semakin efisien dan efektif, dimana para calon klien rumah sakit yang pernah berobat atau dirawat di RS idak perlu lagi menunggu dalam waktu yang cukup lama saat mendaftarkan diri karena proses administrasi yang masih terdokumentasi  secara manual di atas kertas dan membutuhkan waktu yang cukup lama mencari data klien yang sudah tersimpan, ataupun setelah sekian lama mencari dan tidak ditemukan akhirnya klien tersebut diharuskan mendaftar ulang kembali dan hal ini jelas menurunkan efisiensi RS dalam hal penggunaan kertas yang tentunya membutuhkan biaya. Bandingkan bila setiap klien didaftarkan secara digital dan semua data mengenai klien dimasukkan ke dalam komputer sehingga ketika data-data tersebut dibutuhkan kembali dapat diambil dengan waktu yang relatif singkat dan akurat.

Keperawatan Medikal Bedah

April 18, 2009 - Leave a Response

Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Ada dua jenis penyakit ISK, yaitu ISK bagian atas dan ISK bagian bawah. ISK bagian bawah dinamakan sistitis. Pada ISK bagian atas kuman menyebar lewat saluran kencing, ginjal, dan bahkan seluruh tubuh. Sehingga dampak lanjutannya penderita akan mengalami infeksi ginjal dan urosepsis. Itu sebabnya penyakit ini sama sekali tak boleh dianggap remeh.

Mengapa perempuan lebih rentan?
Dibandingkan laki-laki, perempuan ternyata lebih rentan terkena penyakit ini. Pasalnya, penyebabnya adalah saluran uretra (saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh) perempuan lebih pendek (sekitar 3-5 centi meter). Berbeda dengan uretra laki-laki yang panjang, sepanjang penisnya, sehingga kuman sulit masuk.

Penyebab
Infeksi saluran kemih disebabkan karena perempuan tersebut kurang menjaga kebersihan organ intimnya sehingga menjadi tempat berkembang biak yang sangat baik bagi kuman dan bakteri. Nah, salah satu penyebab yang selama ini kurang mendapat perhatian adalah penggunaan toilet umum secara sembarangan!
Bakteri atau kuman yang paling sering mengakibatkan ISK antara lain Escherichia coli atau E. coli, Klebsiella, dan Pseudomonas. Di antara ketiganya, penyebab paling utama adalah E. coli yang ada di mana-mana, termasuk tinja manusia.

Gejalanya
1. Sakit dan nyeri menggigit di perut bagian bawah, di atas tulang kemaluan.
2. Terasa sakit di akhir kencing.
3. Anyang-anyangan atau rasa masih ingin kencing lagi. Meski sudah dicoba untuk berkemih namun tidak ada air kemih yang keluar.
4. Kondisi parah akan disertai demam

TAK BERJUDUL

April 18, 2009 - Satu Tanggapan

TERSERAH ANDA….

Hello world!

April 18, 2009 - Satu Tanggapan

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!